Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan percepatan pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada remaja putri yang mengalami menstruasi. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan zat besi dan membuat mereka rentan terhadap anemia. Anemia merupakan masalah gizi global yang juga cukup tinggi di Indonesia, dengan prevalensi 32% pada remaja usia 15–24 tahun (Riskesdas, 2018). Prevalensi anemia di Provinsi Jawa Tengah mencapai 57,7%, dan di Kabupaten Boyolali tercatat 13,9% pada remaja putri.
Anemia ditandai dengan kadar hemoglobin rendah dan berdampak negatif pada kesehatan, prestasi belajar, serta produktivitas. Jika berlanjut hingga masa kehamilan, anemia meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan janin. Faktor penyebab anemia antara lain pola makan, status gizi, pola menstruasi, serta kepatuhan konsumsi tablet zat besi. Meskipun Dinas Kesehatan telah mendistribusikan tablet Fe, kasus anemia masih ditemukan di kalangan siswi SMP dan SMA di Boyolali.
Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian berjudul:
“Hubungan Pola Makan dan Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada Siswi SMP di Boyolali.”