“Perang besar pejuang pribumi yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda di wilayah kerajaan Mataram/ Jogjakarta berlangsung sengit dan memakan waktu yang lama. Beberapa kelompok pasukan pimpinan senopati perang andalan Pangeran Diponegoro tidak mampu mengimbangi kekuatan pasukan Belanda yang bersenjata lebih canggih dan modern kala itu. Setelah dipukul mundur oleh pasukan Belanda, kelomok pasukan yang dipimpin oleh Kyai Pengirengan beserta para pengikutnya mundur ke wilayah utara yaitu daerah Prambanan dan berikutnya menuju sebuah daerah pegunungan yang dikenal dengan Rogo Runting. Dari daerah Rogo Runting ini Kyai Pengirengan bersama dengan pengikutnya yaitu Putri Serang, Mbah Berah, Prawiro Sekti dan Prawiro Digdoyo, terus bergeser ke wilayah utara hingga daerah pegunungan kendheng tengah yang sekarang dikenal dengan Gunung Kendheng, dan kemudian memutuskan untuk menetap dan memberi nama daerah itu dengan sebutan Wonosegoro”
Menelusuri wilayah Boyolali utara memang terasa menarik, karena keadaan alam wilayah sekitar Boyolali bagian utara ini menyajikan suasana alam yang sangat berbeda dengan wilayah bagian selatan Kabupaten Boyolali. Jika wilayah bagian selatan Kabupaten Boyolali, menyajikan bentangan alam khas daerah pegunungan yang menawarkan pemandangan menarik identik dengan suasana alam hijau dan asri, dan memiliki cuaca yang sejuk karena berada di bawah kaki gunung Merapi dan Merbabu, maka wilayah di bagian utara ini memiliki kondisi cuaca yang sebaliknya. Udara yang cenderung kering dan panas menjadi ciri khas dari wilayah utara. Kenampakan alam berupa daerah persawahan yang membentang luas dikitari dengan perbukitan, serta jajaran hutan jati mendominasi sisi jalan sepanjang wilayah Wonosegoro sampai wilayah Juwangi. Berada pada kondisi wilayah yang demikian tidak menjadikan wilayah Boyolali utara ini kurang menarik, justru jika ditelusuri lebih lanjut terdapat banyak tempat wisata serta menyimpan kekayaan sejarah yang menanti untuk digali lebih dalam.