Suatu siang Karjo pergi ke tegal untuk ngarit (mencari rumput) sebagai pakan utama sapi peliharaannya. Dengan menenteng arit, Karjo berjalan menuju tegal. Tegal adalah sebutan sawah oleh orang desa pada umumnya. Karjo dengan cekatan membabat rumput-rumput di tegalnya. Tak butuh waktu lama telah banyak rumput yang terkumpul. Menyibak rumput terakhir yang akan dibabatnya, Karjo melihat sesuatu yang putih bulat menarik perhatiannya.
“Apa kuwi?” kata Karjo seorang diri.
Karjo mendekati benda yang dilihatnya, yang ternyata sebutir telur yang berukuran cukup besar, lebih besar daripada ukuran telur ayam pada umumnya.
“Wah, iki mesti endhog pitik alas, takjupuke” kata Karjo
Telur ayam alas itu pun ia kantongi dan ia bawa pulang. Sesampainya di rumah, Karjo bercerita kepada ibunya bahwa ia menemukan telur yang sepertinya telur ayam alas. Karjo menceritakan niatnya untuk menetaskan telur itu hingga menjadi ayam dan memeliharanya. Ibunya yang penasaran lalu bertanya kepada Karjo.