“Priiiiiit”…….suara peluit dari bambu telah dibunyikan pertanda lomba lari keliling kampung telah dimulai. Aku berlari dan terus berlari sambil sesekali menenggok kebelakang melihat apakah teman-teman yang menjadi rivalku lari sudah semakin dekat ataukah masih tertingal jauh di belakangku. Ya, lomba lari ala anak-anak zaman itu, hanya untuk mengisi waktu bermain. Tanpa ada hadiah ataupun piala. Namun semua nampak riang gembira tertawa tanpa beban, khas anak-anak.
Tiba-tiba dari jauh aku melihat ada kerumunan orang di dekat Sendang, yang aku sendiri tidak tahu sedang apa. Di Sendang itu biasanya aku dan teman-temanku mandi sekaligus main air, juga digunakan oleh warga masyarakat yang lain tentunya, karena memang itu adalah mata air terbesar dikampungku. Masih dengan nafas yang terengah-engah, atas desakan rasa penasaran yang tinggi akupun mendekat. Kulihat disana ada banyak sekali orang asing, namun melihat dari pakaian yang digunakan aku bisa menebak kalau beliau-beliau adalah orang-orang penting.