Dukuh Grogolan merupakan salah satu dukuh dari 10 dukuh yang ada di kelurahan Tegalgiri. Dukuh Grogolan ini letak geografisnya berada di selatannya bangunan kecamatan Nogosari. Yang sampai saat ini mempunyai jumlah penduduk cukup padat. Kurang lebih ada 126 Kepala Keluarga yang bertempat tinggal di dukuh Grogolan tersebut.
Penduduk yang berada di dukuh Grogolan ini dihuni oleh warga dengan berbagai macam perbedaan terutama dalam pekerjaan, akan tetapi kebersamaan dan rasa saling menghargai dan menghormati sesama sangat di utamakan. Dukuh Grogolan ini bernaung di kelurahan Tegalgiri, dan dipimpin oleh tokoh masyarakat atau yang biasa disebut Lurah. Lurah pertama kali di Desa Tegalgiri ini adalah Mbah Demang orang suruhan dari keraton kasunanan Surakarta. Mbah Demang ini dijadikan orang yang dituakan di daerah Grogolan Tegalgiri pada zaman Belanda pada tahun 1919 yang kemudian masa kedudukannya dilanjutkan oleh Lurah Nasir yang merupakan anak dari Mbah Demang itu sendiri. Nasir menjadi Lurah sekitar tahun 1940 sampai 1973 dengan sebutan lurah Soma Wijaya, dan cukup lama menjadi orang yang dituakan di daerah Grogolan ini. Pada sekitar tahun 1952 pada saat Lurah Soma Wijaya ini menjabat menjadi orang yang kaya dan dia mempunyai tanah sawah 5 petak dan mempunyai kebun sebanyak 7 tempat. Kemudian orang yang dituakan berikutnya adalah Gimin sampai pada masa kemerdekaan. Kemudian pada tahun 1975 mulai diadakan pilihan Lurah dari pemerintah. Lurah terpilih pada tahun 1975 ini adalah Bapak Hammi. Bapak lurah Hammi ini adalah seorang tokoh masyarakat yang kedua orang tua nya merupakan seorang jagal yang sukses dan tiada tertandingi pada masa itu, yang bernama Mbah Harjo maka sebutannya sampai sekarang terkenal dengan Mbah Jagal.