Hidup sendiri sangat berat bagi Kustiah, namun ia menjadi semakin kuat dan tangguh dalam menghadapi segala kondisi. Setelah ditinggalkan saudara kandung dan sang ayah, Kustiah juga ditinggalkan ibunda dan suaminya. Pukulan itu datang bertubi-tubi, namun hatinya tidak lengah apalagi patah. Kehidupan terus berjalan. Rakyat membutuhkan pahlawan yang terus berjuang hingga akhir hayat. Hal itu membuat Kustiah rela meninggalkan hidup di keraton yang penuh kemewahan. Jika ia adalah puteri biasa, ia akan duduk anggun di kursi dengan ukIron mahal. Namun Kustiah adalah pejuang, ia akan tidur tanpa alas bersama rakyat dan merasakan kesedihan yang mendalam sebagai pecut semangat melawan penjajahan. Nyi Ageng Serang, sapaan yang akrab untuk Kustiah. Sedari kecil ia diajarkan oleh ayahnya Pangeran Notoprojo di desa Serang untuk hidup bersama rakyat. Turut menghirup udara kemiskinan dan kesengsaraan. Hati dan pikirannya selalu ia kerahkan untuk kemaslahatan rakyatnya. Sebagai pemimpin di desa Serang, nama Nyi Ageng Serang sangat cocok untuk Kustiah dengan pribadi yang kuat dan pemberani.